Mantan Pimpinan BNI Lubuklinggau Dituntut 8 Tahun Penjara

Mantan Pimpinan Cabang BNI 46 Lubuklinggau, Erry Asyri (59) warga Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (31/8/2020 menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Palembang, sebagai terdakwa.

Dalam sidang itu, ia dituntut delapan tahun penjara, denda Rp300 juta subsidair enam bulan penjara. Karena menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Halim, terdakwa melanggar pasal 2 UU No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Tadi pembacaan tuntutan mantan kepala BNI, terdakwa dituntut delapan tahun kurungan penjara, serta denda Rp300 juta subsidair enam bulan,” kata Kasi Pidsus Kejari Lubuklinggau, Yuriza Antoni, Senin (31/8/2020).

Dalam tuntutan itu, JPU juga membebankan kepada terdakwa membayar uang pengganti Rp1,2 Miliar dan subsidair tiga tahun dan delapan bulan penjara.

Sidang digelar di Pengadilan Tipikor Palembang dihadiri JPU dan Majelis Hakim. Namun terdakwa dihadirkan secara online atau daring.

“Atas tuntutan, terdakwa akan melakukan pembelaan,” ujarnya. Sehingga Senin pekan depan, agendanya adalah pembelaan.

Kasus yang membuat terdakwa disidangkan, terdakwa saat bertugas sebagai Pimpinan Cabang BNI Lubuklinggau diduga tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab selaku pimpinan.

Terdakwa ini memutus hubungan kredit, sehingga terjadi pengajuan kredit fiktif, pada kredit modal kerja (KMK) jasa kontruksi atas nama PT. Perdana Karya Sarana Mandiri dalam pengerjaan paket proyek.

Yakni kegiatan pemasangan SUTM dan SUTR, Trafo di Kecamatan Muara Kelingi Kabupaten Musi Rawas. Pada 2010 anggaran yang digunakan Rp1.250.000.000.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *